Jumat, Februari 08, 2013

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS KECERDASAN JAMAK DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU



Komitmen pemerintah Indonesia dalam upaya perbaikan kinerja guru beberapa tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang cukup baik. Secara normatif, lahirnya undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tenaga pendidik telah diakui sebagai tenaga profesional menunjukkan adanya niat baik dalam membangun sektor pendidikan. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menetapkan bahwa pembinaan dan pengembangan profesi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional juga merupakan bukti adanya kepedulian pemerintah.
Begitu pula keluarnya Peraturan Menteri (PERMEN) Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan merupakan bukti menguatnya komitmen untuk meningkatkan kinerja tenaga pendidik khususnya guru dan dosen dalam menjalankan tugas keprofesionalan. Namun, menguatnya komitmen pemerintah tersebut berbanding terbalik dengan realitas kondisi kinerja guru yang masih rendah baik ditinjau dari aspek motivasi kerja, prestasi peserta didik, kinerja guru dalam pembelajaran, maupun ditelaah dari perspektif penyelenggaraan ujian nasional, Pertama, dilihat dari aspek motivasi kerja guru ditunjukkan dalam survei yang dilakukan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) terhadap 28 propinsi di seluruh Indonesia yang menemukan bahwa motivasi guru yang sudah lulus sertifikasi masih rendah dari guru lain yang belum lulus sertifikasi.  Namun, dampak sertifikasi terhadap kemampuan membeli buku penunjang sertifikasi, berlangganan surat kabar/jurnal, kebiasaan menggunakan komputer/laptop, dan partisipasi dalam mengikuti pelatihan/seminar, membuat bahan ajar, melibatkan diri dalam kegiatan profesi, hingga melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah memperlihatkan kecenderungan yang meningkat.
Kedua, rendahnya kinerja guru dapat dilihat dari prestasi yang ditunjukkan oleh peserta didik. Berdasarkan data dalam Education for All (EFA) Global Monitoring Report  2011 yang dikeluarkan UNESCO menunjukkan bahwa indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada urutan 69 dari 127 negara yang disurvei atau turun empat tingkatan jika dibandingkan hasil survei sebelumnya yang menempatkan Indonesia pada urutan ke 65. Survei itu menggunakan empat tolok ukur, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada anak usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan peserta didik hingga kelas V sekolah dasar. Ketiga, rendahnya kinerja guru dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis di beberapa sekolah menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih menggunakan pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approach) dari pada menerapkan pendekatan yang perpusat pada peserta didik (student-centered approach). Pelaksanaan pembelajaran langsung (direct instruction) dan belajar dengan bantuan guru (assisted learning)  menjadi pendekatan yang sering dianut dalam setiap pelaksanaan pembelajaran.

Artikel Lengkap Klik  Database Artikel Dr.Muhammad Yaumi.

INTEGRASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN



STUDI teknologi pendidikan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini dapat dilihat sejak diperkenalkan istilah media fisik seperti alat peraga, audiovisual, filmstrip, videotape berkembang menjadi video interaktif, satelit, teleconference, Internet, dan berbagai software pembelajaran lainnya. Sekarang dunia menjadi datar (the world is flat) kata Thomas L. Friedman seolah mengisyaratkan bahwa dunia pun sudah berubah seiring dengan perubahan dalam kehidupan manusia. Bahkan Evelyn Waugh berkata bahwa change is the only evidence of life,
Sebagai suatu disiplin ilmu yang terlahir dari perpaduan berbagai disiplin lain seperti komunikasi, psikologi, teknologi, dan pendidikan, hadirnya perubahan dalam teknologi pendidikan tidak dapat dielakkan, bahkan menjadi bagian dari perancang perubahan itu sendiri. Menjadi perancang perubahan karena salah satu kajian teknologi pendidikan adalah difusi inovasi yang menuntut adanya proses imitasi, adopsi, adaptasi, modifikasi, kreasi, inovasi, dan integrasi. Sedangkan, integrasi adalah suatu upaya untuk melakukan penggabungan dua atau lebih elemen guna menghasilkan inovasi barn. Dengan kata lain bahwa mengintegrasikan tek­nologi informasi ke dalam pembelajaran adalah suatu upaya untuk meng­gabungkan teknologi informasi dengan teori-teori pembelajaran guna menghasilkan cara dan strategi baru dalam melaksanakan pembelajaran.
Salah satu inovasi terbesar yang dialami bangsa ini di bidang komu­nikasi adalah dengan diluncurkan sistem komunikasi satelit domestik (satelit PALAPA) pada tanggal 16 Agustus 1976. Peluncuran satelit PALAPA tersebut telah memposisikan Indonesia menjadi suatu negara Asia pertama yang memprakarsai bangkitnya sistem telekomunikasi dunia yang mulai diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1960an. Sejalan dengan hal ini, Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang memiliki satelit domestik atau negara kedua setelah Kanada yang telah menggunakan satelit domestik yang dikenal dengan ANIK. Bahkan Indonesia diklaim sebagai negara berkembang pertama yang mampu menggunakan dan sekaligus memiliki sistem komunikasi yang handal, enam tahun lebih awal dari India, dan sekitar satu dekade lebih dahulu dari negara-negara seperti Cina, Brazil, Meksiko, dan negara-negara Arab di Timur Tengah.

Artikel Lengkap Klik  Database Artikel Dr. Muhammad Yaumi.