Rabu, Oktober 01, 2008

BELAJAR DALAM KONTEKS SOSIAL

 

Catatan Perkuliahan Prof. Dr. Conny R. Semiawan

Oleh

Muhammad Yaumi

Dampak Penelitian Neuroscience terhadap Belajar

Penggunaan the whole brain approach dalam menfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan merupakan upaya yang harus dilakukan semaksimal mungkin dalam upaya mendidik anak agar mencapai perkembangan yang seimbang. Mengabaikan salah satu dari keduanya akan menyebabkan anak itu berkembang tidak dalam batas-batas kewajaran. Oleh karena itu, Invitational Learning Invironment adalah lingkungan belajar yang mengundang anak ke dalam dunia belajar dengan membawa anak agar berminat, interested, terhadap hal-hal yang dipelajari. Invititation berarti mengundang laksana tamu yang diundang untuk menghadiri suatu acara.

Begitulah gambarannya anak didik yang menghadiri pelajaran laksana menikmati sajian yang disediakan oleh yang mengundang, guru. Hal inilah yang akan menghasilkan apa yang dimaksudkan dengan interface, antara apa yang dibicarakan dengan yang keluar dari diri seseorang. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa manusia itu dilahirkan dengan membawa potensi, bakat dan lebih dari satu bakat. Bakat itu harus berubah dan berkembang menjadi kenyataan dalam bentuk prilaku konkrit. Perkembangan menuntut adanya pembelajaran dan pengalaman agar bisa berubah. Jadi, antara perkembangan dan pembelajaran sama-sama mengharapkan adanya perubahan. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang menyatu dalam wujud aktualisasi.

Pengaruh Lingkungan terhadap Pertumbuhan Inteligensi (Penelitian Neuroscience)

Kematangan banyak dibantu oleh pengalaman melalui lingkungan. Pendidikan itu penting bagi setiap anak, tapi harus diingat bahwa pendidikan itu harus sesuai dengan kebutuhan anak, baik menyangkut materi dan aspek internal perkembangan anak seperti tingkatan umur. Tingkat umur harus sesuai dengan apa yang disebut Development Appropriate Practice (DAP) atau praktek kesesuaian perkembangan yang menuntut adanya kebermaknaan. Kalau anak itu diajarkan menyanyi hendaknya diajarkan lagu-lagu yang bermakna sesuai dengan kondisi anak yang sesungguhnya. Sebaliknya kita hendaknya jangan mengajarkan nyanyian yang tidak sesuai dengan maknanya atau asal bunyi saja tanpa mengaitkannya dengan kondisi riil yang sesungguhnya.

Piaget adalah orang yang pertama menemukan bahwa pembelajaran itu harus disesuaikan dengan kondisi murid, bukan disesuaikan dengan pengetahuan yang kita miliki. Di situ harus ada kesiapan untuk mengamati agar terjadi kecocokan pembelajaran dengan kemampuan murid. Di sisi lain Vigostsky mengatakan jangan hanya terikat pada apa yang dijadikan patokan seperti yang dikemukan oleh Piaget bahwa terdapat umur yang dijadikan patokan secara universal seperti umur 0 - 2 tahun adalah tahapan pengembangan sensory-motor stage, tahap perkembangan sensori motor, umur 2 sampai 5 tahun adalah tahapan preoperational stage, umur 7 – 11 tahun adalah tahap concrete operation. Menurut Piaget mematokkan tingkat-tingkat sesuai dengan umurnya dan tidak boleh memberikan pelajaran di atas dari patokan umur tersebut. Karena Piaget melakukan penelitian di rumah yatim piatu yang sesungguhnya meneliti anak yang pertumbuhannya tidak wajar karena tidak memiliki sanak keluarga kecuali teman-teman mereka sendiri. Padahal sangat perlu adanya interaksi dengan yang lain.

Sedangkan Vigostsky menggunakan teori tentang Zone of Proximal Development (ZPD) yang merupakan dimensi sosio-kultural yang penting sebagai dimensi psikologis. Seorang guru dalam melaksanakan kewajiban mengajarnya harus memahami murid dalam dinamika sosial. Guru yang terampil mengajar adalah guru yang selalu mengaitkan kegiatan belajarnya dengan konteks sosial. Mengingat terdapat rentangan potensial belajar yang dibentuk dari kebudayaan, maka perlu menumbuh kembangkan fungsi-fungsi dalam proses mencapai kematangan ZPD, suatu rentangan potensial belajar yang sebenarnya belum matang dan tuntas aktualisasinya, tetapi sudah mengarah ke suatu daerah antara potensi dan aktualisasi.

Jadi Vigostsky adalah seorang ahli yang selalu memperhatikan konstruksi sosial. Menurut dia, seluruh perkembangan dan prilaku manusia selalu ada proses kesesuaian antara prilakunya dengan konstruksi sosial, process of approriation by behavior. Appropriation berarti kesesuaian prilaku dengan konstruksi sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan Piaget melihat dan membangun teorinya lebih pada perkembangan pribadi perorangan, personal constructivist theory yang tentu saja berbeda dengan Vigostsky yang lebih menitikberatkan pada sosial constructivist. Piaget sangat terkait dengan proses dasar-dasar biologis manusia. Vigostsky mengatakan bahwa memang perkembangan kognitif sangat terkait dengan proses dasar-dasar biologis manusia yang banyak kemiripannya dengan binatang, tetapi masih ada psikologis tinggi anak lahir dengan membawa rentangan kemampuan, persepsi, dan perhatian dalam konteks sosial dan pendidikan akan tertransformasikan. Artinya perubahan itu terjadi kalau anak tersebut dididik dalam konteks sosial melalui hukum sosial, bahasa, sarana, kebudayaan tertentu dapat menjadikan fungsi psikologis kognisi tinggi. Inilah ciri pandangan Vigostsky yang mendapat pertentangan yang sangat hebat di Rusia, terutama dari kaum behavioris yang bernama Ivan Pavlov. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ZPD adalah jarak antara tingkat perkembangan actual dengan tingkat perkembangan potensial. Di sini, orang yang sudah matang dapat menyelesaikan masalah sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika daerah actual itu putih dan daerah potensial itu hitam, maka terdapat daerah yang abu-abu, gray area, yang merupakan daerah ZPD, tetapi sudah dekat dengan daerah yang putih.

Vigostsky juga mengemukakan adanya scaffolded instruction, pembelajaran yang mengikuti lompatan-lompatan, yang dia bagi ke dalam tiga prinsip utama, yaitu holistik yang artinya harus bermakna, harus dalam konteks sosial tertentu, harus memiliki peluang untuk berubah dan terkait antara tingkat yang satu dengan tingkat berikutnya. Kalau ketiga hal ini dapat diwujudkan, maka hal itulah yang disebut dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan timbal balik atau dikenal dengan istilah Reciprocal Teaching Approach. Malah anak itu akan memperoleh tantangan yang terkait dengan aktivitas di luar dari tingkat perkembangannya.

Generik Research: Developmental Interface dan Unshared Environment

Sedangkan pada tahap seseorang anak berada dalam ZPD dapat dilihat ke dalam empat tahapan; yakni ada tahapan di mana kinerja anak mendapat bantuan dari pihak lain seperti teman-teman sebayanya. Oleh karena itu tahapan ini dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif atau kolaboratif. Pada tahap berikutnya, anak itu akan mengalami perkembangan, di mana kinerjanya tidak lagi terlalu banyak mengharapkan bantuan dari pihak lain, less dependence external assistence. Kinerja anak pada tahap ini sudah terinternalisasi dan kita juga sudah bisa berasumsi bahwa tanggungjawab anak pada tahap ini sudah berada pada titik kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Setelah itu anak tersebut akan mencapai tahap automatisasi, di mana kinerjanya sudah lebih terinternalisasi secara otomatis walaupun masih melakukan sedikit kesalahan. Setelah itu, barulah kinerjanya mampu mengeluarkan perasaan dari kalbu, jiwa, dan emosinya yang dilakukan secara berulang-ulang, bolak-balik, recursion. Pada tahap ini, keluarlah apa yang disebut dengan de automatisation sebagai puncak dari kinerja sesungguhnya. Maka berfungsilah kedua belahan otak kanan dan otak kiri anak di dalam proses pembelajarannya yang pada akhirnya dapat menghasilkan interface dan unshared environment, di mana terjadi pertautan antara apa yang dibicarakan dengan prilaku yang dilaksanakan dalam suatu lingkungan yang tidak terbagi.